Langsung ke konten utama

Initium Sebuah Halaman

 



Kehidupanku di dunia nyata terbilang biasa-biasa saja; repetisiku hanya bekerja, membaca buku, menulis, dan olahraga menjadi satu hal yang sedang kuupayakan untuk konsisten, kalau penat atau lelah dengan huru-hara yang saya hadapi.. seringnya saya keluar untuk bertualang.. saya suka gunung, hutan, suara kicauan burung, petrichor, kabut, bintang-bintang yang menerangi malam, dan suasana tenang lainnya. Kalau ditanya suka pantai atau tidak? Saya juga suka, namun.. hanya saat matahari berpulang saja keperaduannya.

Saya mulai suka menuangkan kata sejak masih duduk di bangku sekolah menengah.. di masa-masa remaja saat serpihan rasa juga mulai untuk kuartikan satu-persatu. Berkesannya masa-masa sekolah dulu; karena saat apa yang tidak kupercaya dapat untuk kulakukan ternyata sampai hari ini memberiku pelajaran yang baik dan masih berlangsung membawaku menghidupi hidupku dan orang yang saya kasihi. Tidak pernah kusesali tiap air mata yang dulu pernah berada di pipiku karena perjuangan keras di masa-masa itu, justru aku harusnya bersyukur dengan Tuhan yang memberiku pelajaran meski seringnya menjelma sebuah permasalahan.

Perasaan senang, bahagia, sedih, susah, letih dan lesu, perasaan jatuh suka menjadi cerita yang sangat menarik untuk saya saat itu, juga kesadaran diri tersebab sentuhan hati saat bertemu teman-teman remaja masjid. Aku bersyukur warna-warni itu juga hadir di kehidupanku.

Halaman ini kedepannya akan berisikan tulisan-tulisan sederhana dari upayaku untuk merawat sebuah ingatan karena; bentuk menghargai masa lalu juga dengan tidak melupakannya. Dan alasan semua itu terjadi bukan tanpa sebab dan kita di hari ini adalah hasil terpaan dari masalah yang pernah terjadi kala itu. Kalau belum memiliki tempat untuk mencurahkan isi kepala dan apa yang dirasakan oleh hati bukan berarti tidak ada jalan sama sekali, kita bisa membuat wadah itu sendiri dengan menulis ke dalam platform seperti ini. Karena terkadang dengan tidak adanya jalan (buntu) adalah awal dari jalan itu sendiri menuju keberuntungan, mungkin kita dapat mengasah keterampilan, merangkai kata, melahirkan kalimat yang indah dan juga membiasakan otak untuk terus berpikir. 

Satu hal yang perlu di ingat dan akan menjadi landasanku untuk tetap menulis; jika penulis menulis tentang cinta bukan berati sedang jatuh, menulis tentang luka bukan berarti sedang patah, kadang penulis itu hanya ingin menulis apa yang terlintas di benaknya, mereka hanya sedang mencoba untuk mendengarkan kata hatinya karena tulisan akan menjadi berharga dengan perasaan yang larut di dalamnya. 

Raff


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekapur Sirih

Dalam sebuah tujuan, proses adalah hal yang sangat penting—membuatnya lebih bermakna adalah satu hal yang harus. Karenanya hargailah sebuah proses yang tengah kita perjuangkan, pada setiap detak detiknya terdapat lelah yang kita bangunkan harap agar menjadi lillah di jalan-Nya. Hari-hari yang akan berlalu, berusahalah menanam (kesabaran) di dalamnya dan teguhlah agar di waktu memanen buah yang kita petik akan berbuah manis (Rahmah-Nya). Menjadi baik maksudnya meninggalkan kebiasaan buruk yang pernah kita lakukan, menggantinya dengan hal-hal baik yang sesuai syariat yang Allah perintahkan dan Allah larangkan. Pelan-pelan karena berubah itu butuh proses dan teruslah maju meski suatu hari nanti kita akan naik—turun. Perubahan itu yang penting adalah konsistensinya , kurang lebih seperti itulah perkataan orang bijak yang pernah kubaca tulisannya pada lembaran buku. Lelah itu manusiawi, istirahat juga merupakan kebutuhan dan yang paling penting bagaimana kita bisa mengisi waktu-waktu jeda i...

Tenang.

  Kita nyatanya tidak pernah sendirian, dalam menyelesaikan tantangan-tantangan kehidupan ini masing-masing kita pasti pernah berada dikeadaan yang tidak ada satupun yang menemani bahkan hanya sekadar teman untuk bercerita rasa sakit itu sendiri. Perihal masalah itu sendiri mungkin dari perspektif permasalahan ada banyak yang sama tapi tentu kadar rasanya berbeda-beda, tergantung masing-masing orangnya dan bagaimana cara kita memberikan respon atas segala yang membuat kita merasakan gundah gulana. Menyambutnya dengan penerimaan; bahwa ini memang akan terjadi selama kita masih berpijak di atas bumi adalah pondasi dan menjadi titik awal yang krusial. Terkadang bentuk masalahnya adalah hal yang pertama kali kita rasakan ( based on experience)  tapi kalau kita memakai kacamata “ kita tidak sendirian dalam hal merasakan luka ini atau permasalahan ini ” terkadang dengan pola pikir yang seperti itu berhasil mendatangkan kelegaan sendiri sebelum kita benar-benar di dalam arus permasa...