Langsung ke konten utama

Tenang.

 


Kita nyatanya tidak pernah sendirian, dalam menyelesaikan tantangan-tantangan kehidupan ini masing-masing kita pasti pernah berada dikeadaan yang tidak ada satupun yang menemani bahkan hanya sekadar teman untuk bercerita rasa sakit itu sendiri. Perihal masalah itu sendiri mungkin dari perspektif permasalahan ada banyak yang sama tapi tentu kadar rasanya berbeda-beda, tergantung masing-masing orangnya dan bagaimana cara kita memberikan respon atas segala yang membuat kita merasakan gundah gulana.


Menyambutnya dengan penerimaan; bahwa ini memang akan terjadi selama kita masih berpijak di atas bumi adalah pondasi dan menjadi titik awal yang krusial. Terkadang bentuk masalahnya adalah hal yang pertama kali kita rasakan (based on experience) tapi kalau kita memakai kacamata kita tidak sendirian dalam hal merasakan luka ini atau permasalahan ini terkadang dengan pola pikir yang seperti itu berhasil mendatangkan kelegaan sendiri sebelum kita benar-benar di dalam arus permasalahan yang kita hadapi.

Mindset yang seperti itu akan melahirkan pernyataan, Masalah ini pasti pernah dirasakan oleh orang lain, entah siapa. Namun, mereka pasti juga bisa melewatinya. Jika begitu, aku juga pasti bisa. Aku bukan sama sekali orang yang bijak, yang sangat pandai berbicara seakan dunia sangat mudah untuk dikendalikan. But, based on my experience hal itu yang selalu aku terapkan dalam hidup jika aku menerima sesuatu hal yang baru, terutama jika itu adalah sebuah masalah yang akan melahirkan sebuah luka ataupun pengalaman pahit.

Aku memahami kehidupan memang tidak akan selalu mulus, tidak akan selalu seperti apa yang kita inginkan, tidak semua keadaan itu akan berpihak pada diri kita, tidak selamanya semua hal ada dalam kendali tangan, itulah sebab sebelum semua itu datang menghampiri sebagai ujian, Aku menuliskan ini sebagai bahan untuk kita (aku dan kalian semua sebagai pembaca) agar bisa lebih bersiap dan menerima, meski mungkin juga akan sepahit itu.

Obat itu kita kenal dengan rasanya yang pahit bukan?, semua pelajaran yang berbentuk menguji kita sebagai orang yang hidup di muka bumi adalah kepahitan yang akan menjadi benih-benih kebahagaiaan suatu saat nanti. Entah, rasa Bahagia itu akan datang dengan cara seperti apa atau menjelma bentuk seperti apa .. biarkan itu menjadi cerita selanjutnya yang akan kita sambut.

Seperti badai yang akan berlalu, seringnya melahirkan pelangi yang memiliki warna-warnanya yang indah, meskipun juga tak selalu .. tetapi hidup tidak selalu mendung, cerah pun ada waktunya, kita hanya perlu menguatkan kaki agar terus berdiri, melangkah tanpa henti. Insyaa Allah kita akan (merasakan) lahir sebagai pribadi yang lebih siap (daripada sebelumnya), pribadi yang lebih kuat, jika semua kita jalani dengan penerimaan yang baik. Mari terus hidup ada banyak hal-hal baik yang akan datang.

Kalaupun dirimu tetap keras kepala menganggap keadaanmu benar-benar sendiri, seenggaknya kita tumbuh, kita berkembang, jangan patah semangat yahh.


Raff


Komentar

  1. Relate sekali, lagi ngalamin bangett tapi setelah baca inii alhamdulillah lumayan "TENANG".

    BalasHapus
  2. setidaknya kita tumbuh, kita berkembang🪷

    BalasHapus
  3. Semoga setiap kita bisa menerima kepahitan yg datang dengan hati yg ikhlas

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekapur Sirih

Dalam sebuah tujuan, proses adalah hal yang sangat penting—membuatnya lebih bermakna adalah satu hal yang harus. Karenanya hargailah sebuah proses yang tengah kita perjuangkan, pada setiap detak detiknya terdapat lelah yang kita bangunkan harap agar menjadi lillah di jalan-Nya. Hari-hari yang akan berlalu, berusahalah menanam (kesabaran) di dalamnya dan teguhlah agar di waktu memanen buah yang kita petik akan berbuah manis (Rahmah-Nya). Menjadi baik maksudnya meninggalkan kebiasaan buruk yang pernah kita lakukan, menggantinya dengan hal-hal baik yang sesuai syariat yang Allah perintahkan dan Allah larangkan. Pelan-pelan karena berubah itu butuh proses dan teruslah maju meski suatu hari nanti kita akan naik—turun. Perubahan itu yang penting adalah konsistensinya , kurang lebih seperti itulah perkataan orang bijak yang pernah kubaca tulisannya pada lembaran buku. Lelah itu manusiawi, istirahat juga merupakan kebutuhan dan yang paling penting bagaimana kita bisa mengisi waktu-waktu jeda i...

Di balik kesusahpayahan manusia.

Aku berpikir dan mencoba merefleksikan usahaku setengah tahun ini, memang ada kalanya kita hanya butuh waktu untuk berdamai dengan realita yang seringnya tidak mulus saat di jalani. Terkadang aku merasa harus terpaksa menelan rasa kecewa atau rasa lelah yang datangnya bersamaan. Mmmm .. sama seperti tokoh-tokoh dalam sastra kontemporer yang pernah kubaca, keindahan hidupnya sering kali muncul justru setelah melewati badai yang hebat. Dan sejumlah quotes bijaksana yang pernah kueja dari platform-platform seperti ini. Yang membuatku kagum adalah Tuhanku sudah memberitakan itu dalam Kitab-Nya yang suci jauh sebelum tokoh fiksi itu ku ketahui, jauh sebelum internet mulai kudalami bahwa, "Setiap kesulitan pasti ada kemudahan", ini adalah janji .. janji yang sangat menenangkan. Aku memang payah dan memang manusia itu diciptakan dalam kesusahpayahannya. Namun, justru kepayahan itulah yang sebenarnya membentuk selapis demi selapis kedewasaanku. Dan aku tidak ragu sekalipun bahwa firm...