Kita
nyatanya tidak pernah sendirian, dalam menyelesaikan tantangan-tantangan
kehidupan ini masing-masing kita pasti pernah berada dikeadaan yang tidak ada satupun yang menemani bahkan hanya sekadar teman untuk bercerita rasa sakit itu sendiri. Perihal masalah itu sendiri mungkin
dari perspektif permasalahan ada banyak yang sama tapi tentu kadar rasanya
berbeda-beda, tergantung masing-masing orangnya dan bagaimana cara kita memberikan
respon atas segala yang membuat kita merasakan gundah gulana.
Menyambutnya dengan penerimaan; bahwa ini memang akan terjadi selama kita masih berpijak di atas bumi adalah pondasi dan menjadi titik awal yang krusial. Terkadang bentuk masalahnya adalah hal yang pertama kali kita rasakan (based on experience) tapi kalau kita memakai kacamata “kita tidak sendirian dalam hal merasakan luka ini atau permasalahan ini” terkadang dengan pola pikir yang seperti itu berhasil mendatangkan kelegaan sendiri sebelum kita benar-benar di dalam arus permasalahan yang kita hadapi.
Mindset yang seperti itu akan melahirkan pernyataan, “Masalah ini pasti pernah dirasakan oleh orang lain, entah siapa. Namun, mereka pasti juga bisa melewatinya. Jika begitu, aku juga pasti bisa”. Aku bukan sama sekali orang yang bijak, yang sangat pandai berbicara seakan dunia sangat mudah untuk dikendalikan. But, based on my experience hal itu yang selalu aku terapkan dalam hidup jika aku menerima sesuatu hal yang baru, terutama jika itu adalah sebuah masalah yang akan melahirkan sebuah luka ataupun pengalaman pahit.
Aku memahami kehidupan memang tidak akan selalu mulus, tidak akan selalu seperti apa yang kita inginkan, tidak semua keadaan itu akan berpihak pada diri kita, tidak selamanya semua hal ada dalam kendali tangan, itulah sebab sebelum semua itu datang menghampiri sebagai ujian, Aku menuliskan ini sebagai bahan untuk kita (aku dan kalian semua sebagai pembaca) agar bisa lebih bersiap dan menerima, meski mungkin juga akan sepahit itu.
Obat itu kita kenal dengan rasanya yang pahit bukan?, semua pelajaran yang berbentuk menguji kita sebagai orang yang hidup di muka bumi adalah kepahitan yang akan menjadi benih-benih kebahagaiaan suatu saat nanti. Entah, rasa Bahagia itu akan datang dengan cara seperti apa atau menjelma bentuk seperti apa .. biarkan itu menjadi cerita selanjutnya yang akan kita sambut.
Seperti badai yang akan berlalu, seringnya melahirkan pelangi yang memiliki warna-warnanya yang indah, meskipun juga tak selalu .. tetapi hidup tidak selalu mendung, cerah pun ada waktunya, kita hanya perlu menguatkan kaki agar terus berdiri, melangkah tanpa henti. Insyaa Allah kita akan (merasakan) lahir sebagai pribadi yang lebih siap (daripada sebelumnya), pribadi yang lebih kuat, jika semua kita jalani dengan penerimaan yang baik. Mari terus hidup ada banyak hal-hal baik yang akan datang.
Kalaupun dirimu tetap keras kepala menganggap keadaanmu benar-benar sendiri, seenggaknya kita tumbuh, kita berkembang, jangan patah semangat yahh.
—Raff
Menyambutnya dengan penerimaan; bahwa ini memang akan terjadi selama kita masih berpijak di atas bumi adalah pondasi dan menjadi titik awal yang krusial. Terkadang bentuk masalahnya adalah hal yang pertama kali kita rasakan (based on experience) tapi kalau kita memakai kacamata “kita tidak sendirian dalam hal merasakan luka ini atau permasalahan ini” terkadang dengan pola pikir yang seperti itu berhasil mendatangkan kelegaan sendiri sebelum kita benar-benar di dalam arus permasalahan yang kita hadapi.
Mindset yang seperti itu akan melahirkan pernyataan, “Masalah ini pasti pernah dirasakan oleh orang lain, entah siapa. Namun, mereka pasti juga bisa melewatinya. Jika begitu, aku juga pasti bisa”. Aku bukan sama sekali orang yang bijak, yang sangat pandai berbicara seakan dunia sangat mudah untuk dikendalikan. But, based on my experience hal itu yang selalu aku terapkan dalam hidup jika aku menerima sesuatu hal yang baru, terutama jika itu adalah sebuah masalah yang akan melahirkan sebuah luka ataupun pengalaman pahit.
Aku memahami kehidupan memang tidak akan selalu mulus, tidak akan selalu seperti apa yang kita inginkan, tidak semua keadaan itu akan berpihak pada diri kita, tidak selamanya semua hal ada dalam kendali tangan, itulah sebab sebelum semua itu datang menghampiri sebagai ujian, Aku menuliskan ini sebagai bahan untuk kita (aku dan kalian semua sebagai pembaca) agar bisa lebih bersiap dan menerima, meski mungkin juga akan sepahit itu.
Obat itu kita kenal dengan rasanya yang pahit bukan?, semua pelajaran yang berbentuk menguji kita sebagai orang yang hidup di muka bumi adalah kepahitan yang akan menjadi benih-benih kebahagaiaan suatu saat nanti. Entah, rasa Bahagia itu akan datang dengan cara seperti apa atau menjelma bentuk seperti apa .. biarkan itu menjadi cerita selanjutnya yang akan kita sambut.
Seperti badai yang akan berlalu, seringnya melahirkan pelangi yang memiliki warna-warnanya yang indah, meskipun juga tak selalu .. tetapi hidup tidak selalu mendung, cerah pun ada waktunya, kita hanya perlu menguatkan kaki agar terus berdiri, melangkah tanpa henti. Insyaa Allah kita akan (merasakan) lahir sebagai pribadi yang lebih siap (daripada sebelumnya), pribadi yang lebih kuat, jika semua kita jalani dengan penerimaan yang baik. Mari terus hidup ada banyak hal-hal baik yang akan datang.
Kalaupun dirimu tetap keras kepala menganggap keadaanmu benar-benar sendiri, seenggaknya kita tumbuh, kita berkembang, jangan patah semangat yahh.
—Raff

Relate sekali, lagi ngalamin bangett tapi setelah baca inii alhamdulillah lumayan "TENANG".
BalasHapussetidaknya kita tumbuh, kita berkembang🪷
BalasHapusSemoga setiap kita bisa menerima kepahitan yg datang dengan hati yg ikhlas
BalasHapus